12 Desember 2008

Manajemen Broiler Modern

Hari masih terhitung pagi, ketika saya memasuki kandang broiler milik bapak Alim. Bangunan kandangnya sederhana. Tiang-tiang penopangnya dari kayu dan bambu serta beratapkan genteng. Berdasarkan teknis perkandangan, sebenarnya kandang broiler tersebut kurang memenuhi persyaratan. Lebar kandangnya melebihi standar, yaitu sekitar 10 meter. Tidak ada monitor di bagian atapnya. Jarak antara satu kandang dengan kandang lainnya hanya berkisar 4 meter saja. Tinggi alas kandangnya 1,5 m.
Di dalam kandang tersebut berisi 6.000 ekor anak ayam umur 4 hari. Penempatan anak ayam sebanyak itu dibagi dalam 10 kandang indukan. Chick guard (pembatas kandang indukan) menggunakan seng. Pemanasnya dibuat dari tong atau drum bekas tempat minyak tanah. Dinding drum diberi satu lubang berdiameter sekitar 8 cm. Tujuannya sebagai pintu masuk oksigen untuk pembakaran. Bahan bakar pemanas adalah potongan-potongan kayu. Di atas drum, digantungkan seng sebagai penutup.
Saat itu saya perhatikan tirai-tirai plastik masih menutupi semua sisi kandang. Meski pun demikian, penyebaran anak ayam di masing-masing brooder merata. Nampaknya anak-anak ayam tersebut merasakan kenyamanan. Artinya, temperatur lingkungan dalam kandang indukan - ketika itu - memadai dan sesuai kebutuhan anak ayam. Saya ambil beberapa ekor anak ayam, kemudian saya raba tembolok dan telapak kakinya. Kesemua anak ayam yang saya ambil tadi, temboloknya terasa penuh berisi pakan campur air minum. Telapak kaki anak ayam yang saya raba, seluruhnya terasa hangat.
Begitu asyiknya berdiskusi dengan pak Alim, tanpa disadari hari semakin siang. Di dalam kandang itu, saya mulai merasa kegerahan. Anak-anak ayam membuka paruhnya (panting). Mereka sudah kepanasan dan gelisah. Melihat hal itu, saya sampaikan kepada pak Alim bahwa temperatur kandang telah meningkat dan mengakibatkan stres atau cekaman pada anak-anak ayam.
Tanpa menunggu lama, pak Alim memanggil dua operator (anak kandang). Setelah kedua operator tersebut berada di dalam kandang, pak Alim pun bertanya ”Apa yang kamu rasakan ketika berada di dalam kandang ini ?” Spontan keduanya menjawab ”Panas dan gerah, pak”
”Menurut kamu, apakah nyaman berada dalam kandang seperti itu dan dalam waktu lama ?”
”Wah..ya..nggak, pak !”
”Apakah kamu tega bila anak ayam yang kamu pelihara tidak nyaman karena kepanasan ?”
”Mboten, pak,” jawab kedua operator itu dalam bahasa Jawa yang artinya ”Tidak, pak”
”Bagus kalau begitu. Segera lakukan yang terbaik agar anak ayammu merasa nyaman kembali”
Mendengar instruksi ”halus” pak Alim, kedua operator itu pun berpencar. Seorang menuju keluar kandang dan membuka (dengan cara menggulung) bagian atas tirai yang menutupi dinding kandang. Sementara yang satu, dengan menggunakan batu bata menutup sebagian lubang di dinding drum pemanas. Dengan ditutup sebagian, oksigen berkurang dan nyala api pun mengecil sehingga panas yang dipancarkan menurun. Beberapa saat kemudian, temperatur dalam kandang berangsur-angsur normal. Hembusan angin segar masuk ke dalam kandang melalui bagian atas tirai yang terbuka. Anak ayam menyebar rata kembali. Mereka mematuk-matuk pakan dan menghirup air minum dengan nyamannya.
Broiler moderen memang tumbuh lebih cepat dengan konversi pakan yang lebih hemat. Namun, broiler moderen juga mempunyai konsekuensi-konsekuensi tersendiri. Antara lain, sangat peka terhadap pengaruh lingkungan dan mudah nervous. Oleh karenanya broiler moderen membutuhkan manajemen (tatalaksana pemeliharaan) yang spesifik. Harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati dan penuh peduli.
Manajemen broiler moderen tidak selalu identik dengan peralatan dan perlengkapan moderen. Dalam artian harus canggih dan mahal. Teknologi canggih bisa berfungsi maksimal bila didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional serta Sistem-Prosedur yang handal. Apalah artinya pemanas berbahan bakar elpiji, misalnya, bila operator kandang selalu terlambat menyalakannya padahal temperatur kandang sudah dingin dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak ayam pada saat itu. Akibatnya, anak ayam kedinginan, bergerombol dan berdesak-desakan. Anak ayam tersebut didera cekaman (stres).
Dalam kasus di peternakan broiler pak Alim, saya melihat betapa pedulinya beliau kepada ayamnya. Begitu tanggap terhadap apa yang dirasakan ayamnya. Beliau begitu fokus dan penuh kasih memelihara ayamnya. Pak Alim tidak rela bila ayamnya menderita stres/cekaman yang berkepanjangan. Memang, inti manajemen broiler moderen adalah usahakan semaksimal mungkin untuk meminimalkan stres pada ayam. Bila peternak tidak ingin stres, maka janganlah membuat ayam stres ! Mudah, bukan ?
(Sumber : Infovet 2007)

11 Desember 2008

Pemeliharaan Ayam Broiler Periode Brooding

Pemeliharaan Ayam Broiler periode Brooding

Tujuan brooding adalah untuk menyediakan lingkungan yang nyaman dan sehat secara efisien dan ekonomis bagi anak ayam, untuk mencapai pertumbuhan optimal.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. cek kondisi mobil pengangkut saat DOC datang, yang meliputi: segel, kondisi kipas, surat jalan dan cek sample DOC 10% dengan disaksikan oleh sopir pengirim.
  2. cek sample dengan memperhatikan jumlah DOC, DOC yang mati serta kondisi secara umum (lincah, diam, cacat, dll)
  3. setelah DOC dicek, segera disebar ke brooder masing-masing yang telah disiapkan.
  4. berikan air gula 2% selama 1-2 jam pertama, kemudian ganti dengan elektrolit dan antibiotika untuk 3-5 hari pertama
  5. nyalakan pemanas sebelum DOC datang untuk kestabilan suhu dalam brooding. Pastikan sushu pemanas 32-330C dan dikurangi secara brtahap sesuai kebutuhan ayam. Perhatikan penyebaran anak ayam dalam brooding sebagai indicator ketepatan kebutuhan pemanas.
  6. segera berikan pakan sedikit demi sedikit sesering mungkin dan pastikan dalam, jumlah yang cukup. Selama minggu pertama pemberian pakan 5-8 kali per hari.
  7. air minum harus selalu tersedia terus menerus (adlibitum) dalam jumlah yang cukup dan bersih.
  8. berikan penerangan selama 24 jam untuk minggu pertama dan selanjutnya bisa dikurangi sesuai dengan kebutuhan.
  9. tinggi litter lebih kurang 5cm dari bahan yang mampu menyerap air, tidak berdebu dan bersih. Litter yang kotor dan menggumpal segera diganti dengan yang baru dan bersih. Bila menggunakan alas koran cukup sampai usia 3 hari (Koran yang kotor segera diganti dengan Koran yang baru)
  10. pastikan anak ayam selalu mendapat udara segar dan bersih untuk mengganti udara panas dan kotor dalam kangdang dengan membuka / menutup tirai kandang
  11. pelebaran indukan secara bertahap dengan melihat kepadatan anak ayam. Pastikan anak ayam menjangkau tempat pakan dan minum dengan mudah
  12. perhatikan anak ayam secara intensif selama 24 jam pertama untuk memastikan bahwa anak ayam tersebut cukup nyaman berada di brooder. Perhatikan tingkah laku anak ayam dan pastikan kalau semua anak ayam dapat dengan mudah menjangkau pakan dan air minum.
  13. penyebab utama kematian di minggu pertama secara umum antara lain: temperature brooding terlalu dingin, kurangnya distribusi air, ventilasi di dalam brooding, dll.
  14. lama brooding tergantung dari lokasi kandang dan kondisi lingkungan sekitar, secara umum lamanya periode brooding antara 10-14 hari, dengan kisaran suhu 30-320C dan kelembaban 60-80%.

 

blogger templates 3 columns | Tech Blog